LADANG SUDAH MENGUNING

Save the lost at any cost

WILLIAM CAREY

Posted by petrusfs pada Oktober 17, 2007

William Carey

“Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.”

(I Tawarikh 16:24)

Persiapan

William Carey dilahirkan pada tanggal 17 Agustus 1761 di desa Paulurspury, sebuah desa kecil di Inggris. Ayahnya seorang tukang tenun; tetapi karena ia melatih diri dengan rajin dalam membaca buku-buku, akhimya ia dipilih menjadi guru SD di desanya. William Carey sendiri dididik dalam sekolah ayahnya.

William Carey sangat tertarik akan semua mata pelajaran, dan sama seperti ayahnya, ia gemar membaca buku. la juga dikenal sebagai pecinta lingkungan. Dalam karnar tidumya terdapat sebuah museum kecil dengan bunga-bunga, burung, serangga dan sebagainya sehingga teman-teman sekelas William heran sekali melihatnya.

Setelah tamat dari SD, oleh orang tuanya, William Carey diserahkan kepada seorang tukang sepatu supaya ia dapat belajar bagaimana memperbaiki sepatu. Tetapi dalam bekerjapun William Carey tidak pemah berhenti belajar. Di dekat tempat kerjanya, ia memasang rak kecil dan menaruh buku yang terbuka pada rak itu untuk memudahkannya membaca. Sambil tangannya memperbaiki sepatu, matanya membaca kata-kata dari bahasa asing dan menghafalnya. Dengan cara demikianlah William Carey belajar sendiri bahasa Latin dan Yunani.

Beberapa tahun kemudian majikannya meninggal dunia. Wiliam Carey membuka bengkel sepatu sendiri. Namun di samping memperbaiki sepatu pada pagi dan siang hari, malam harinya ia mengajar anak-anak desa seperti ayah­nya dulu. Pada hari Minggu ia juga berkhotbah di gereja Baptis dekat rumahnya.

Para langganan yang masuk ke bengkel sepatu milik William Carey tertarik kepada peta dunia yang tertempel di dinding. Sudah lama ia mencatat serta mempelajari setiap berita baru dari benua-benua yang jauh. la mendoakan penduduk-penduduk benua yang jauh itu dan rindu supaya mereka juga dapat mendengar tentang Injil.

Menjadi Utusan Misi ke India

Pada masa itu orang-orang Kristen belum begitu sadar akan kewajibannya untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Waktu William Carey berbicara dalam gerejanya tentang kewajiban itu, seorang pendeta tua menjawab: “Duduklah dan jangan terlalu bersemangat, Saudara Carey. Kalau Tuhan ingin supaya orang kafir bertobat, Dia dapat menobatkan mereka. Tuhan tidak membutuhkan pertolongan Anda.”

Tetapi William Carey tidak dapat berdiam diri. Ia terus berdoa dan memikirkan bagaimana ia dapat menyadarkan gerejanya. Akhimya dalam tahun 1792 ia mendapat kesempatan berkhotbah pada sekelompok pendeta di Nottingham. Dalam khotbah itu William Carey menanamkan dua kalimat yang amat berkesan dan sering diulangi orang Kristen sampai pada hari ini:

Menantikan hal-hal yang besar dari Tuhan.

Mengerjakan hal-hal yang besar untuk Tuhan.

 

  Menantikan hal-hal yang besar dari Tuhan. Mengerjakan hal-hal yang besar untuk Tuhan.

Sesudah menyampaikan khotbah yang berani dan berapi-api itu, WilIiam Carey mendirikan Yayasan Misi yang pertama di Inggris. Dan betul, pada bulan Juni 1793, hanya satu tahun kemudian, keluarga Carey meninggalkan negeri Inggris untuk berlayar ke India.

Keputusan untuk pergi ke India sangat berat untuk nyonya Carey, karena mereka sudah mempunyai tiga anak laki-laki yang masih kecil-kecil yang bemama Felix, William dan Peter, serta seorang anak putri yang baru lahir. Tetapi karena suaminya begitu yakin bahwa Tuhan memanggilnya, istrinya ikut dengan taat sambil menggendong bayinya. Perjalanan mereka berlangsung selama lima bulan. Seperti Rasul Paulus, mereka mengalami angin topan dan gelombang yang dahsyat. Di pantai Afrika Selatan kapal mereka perlu diperbaiki karena mengalami kerusakan yang besar. Dan waktu mereka sudah dekat pantai India mereka merasa senang karena sebentar lagi akan mendarat Ternyata kapal mereka tertahan satu bulan oleh arus yang begitu kuat sehingga tidak dapat mendekati pelabuhan. Tetapi dalam bulan November mereka akhirnya bisa sampai dengan selamat di India dan meneruskan perjalanan melalui sungai Hoogli ke kota besar Calcutta.

Tantangan di India

Bulan-bulan pertama sama sekali tidak mudah untuk keluarga Carey. Bahasa Bengali yang dipakai di daerah itu belum mereka kuasai. Anak-anak yang biasanya makan roti sekarang diberi nasi tiga kali sehari dan lauk-pauk yang pedas. Cuaca panas dan banyak nyamuk membuat Felix terserang mala­ria dan nyonya Carey dengan bayinya terserang penyakit disentri. Di kota besar bahan makanan sangat mahal dan harga untuk menyewa rumah sangat tinggi sehingga uang keluarga Carey cepat habis. Untuk beberapa bulan William Carey membawa keluarganya tinggal dekat hutan rimba di mana beberapa ke­luarga Inggris lain hidup sebagai pengawas perkebunan. Hutan itu penuh ular dan harimau, tetapi dengan berani William Carey membangun rumah dengan tangannya sendiri. Mereka hidup dari hasil kebun yang baru ditanam dan juga sangat tertolong oleh kebaikan seorang India yang membawa sayur-sayuran dan bahan makanan lain untuk keluarga Carey. Meskipun begitu, Peter, anak ke­luarga Carey yang ketiga, sakit keras dan meninggai dunia. Nyonya Carey tidak dapat tahan lagi dengan segala kesusahan yang dihadapinya. ia menjadi sakit syaraf dan tidak dapat sembuh lagi.

Mulai Memberitakan Iniil

Semua hal itu merupakan ujian iman yang berat untuk William Carey. Tetapi ia tidak undur. la belajar bahasa dengan tekun dan mulai memberitakan Injil di sekitar daerah itu. Tuhan yang menguji iman keluarga itu berbelas kasihan atas William Carey. la mendapat tawaran bekerja sebagai pengawas perke­bunan di perusahan indigo, yaitu semacam tanaman yang diusahakan untuk mendapat cat biru yang tndah. Mulai saat itu mereka tidak susah lagi dan mempunyai uang untuk membiayai semua keperluan hidup. Keluarga Carey pindah ke daerah perkebunan itu di dekat Calcutta. Di sana mereka diberi sebuah rumah yang layak dan gaji tetap. Waktu luang di luar pekerjaan digunakan oleh William Carey untuk memberitakan Injil kepada pekerja-pekerja di per­kebunan dan di perusahaan itu.

Selama enam tahun William Carey bekerja di tempat itu. la belajar banyak tentang kebudayaan dan agama orang India, baik yang beragama Hindu maupun yang beragama Muslim. Di samping pekerjaannya dan penginjilannya, William Carey dengan rajin belajar bahasa Bengali dan Sansekrit sampai menguasainya dengan sempuma. Ttdak ada orang asing lain yang sebaik William Carey dalam memakai bahasa-bahasa tersebut.

Sesudah enam tahun, terjadi lagi keadaan yang krisis. Perusahaan di mana William bekerja ditutup karena kesulitan ekonomi. William Carey sekarang mempunyai pekerjaan lain. Geiombang kedua pendeta utusan yang dipanggil oleh Carey sudah sampai ke India. Tetapi mereka tidak mendapat ijin masuk karena East Indian Company yang menguasai India waktu itu tidak senang melihat para misionaris memberitakan Injil kepada orang India. Apa yang harus diperbuat oleh William Carey? la berpegang pada motto hidupnya: “Menantikan hal-hal yang besar dari Tuhan.” la pergi ke kota Serampore yang berada dalam kekuasaan bangsa Denmark. Di sana William Carey bersama-sama dengan beberapa misionaris lainnya mendirikan sebuah koloni Kristen yang membawa banyak berkat kepada negara India.

Orang Kristen Mula-Mula

Di Serampore ia langsung membangun sebuah percetakan. Seorang ahli cetak yang bernama Ward juga mendapat panggilan Tuhan. Bersama Felix, anak sulung keluarga Carey yang saat itu sudah menjelang remaja, bapak Ward mencetak bagian-bagian Alkrtab yang diterjemahkan oleh William Carey. Mereka saling melengkapi baik dalam bahasa maupun dalam mencetak sehingga kerjasama mereka terjalin dengan baik sekali. Juga sebuah sekolah didirikan oleh pendeta utusan bemama Marshman. Banyak anak India melamar ke sekolah itu. Meskipun misionaris-misionaris dari Inggris ini bekerja berat dan mengabarkan Injil dengan setia, lama sekali tidak ada seorang pun yang berani untuk bertobat dan menjadi Kristen. Baru dalam tahun 1300 sesudah tujuh tahun Injil diberitakan, seorang tukang kayu yang bemama Krishna Pal mau menjadi orang Kristen. Bersama dia ada temannya yang bemama Gokul.

Sebenamya orang Hindu, menurut ajaran agama mereka, dilarang makan bersama dengan orang yang bukan Hindu karena hal itu dianggap dapat menatskan mereka. Tetapi tiga hari sebelum Natal, Krishna Pal dan Gokul dengan berani makan bersama orang Kristen. Pada malam berikutnya, orang- orang Hindu berkumpul di depan rumah Krishna Pal dengan sangat marah, dan mau membunuh dja. Begitu besar rasa kebencian mereka terhadap orang Hindu yang menjadi Kristen. Tetapi wakil pemerintah mendengar tentang keributan itu dan menyelamatkan Krishna Pal serta keluarganya.

Gereja Mulai Tumbuh

Satu minggu kemudian sudah direncanakan untuk membaptiskan mere­ka, temyata hanya Krishna Pal yang berani mengakui Kristus dafam baptisan. Gokul mengundurkan diri karena rasa takut Tetapi akhirnya Krishna Pat tidak sendirian, karena Felix Carey juga mirrta dibaptis. Baptisan itu menarik banyak penonton karena dilaksanakan di sungai. Orang India menyaksikan bagaimana seorang India dan seorang pemuda Inggris dibaptis bersama-sama. Tidak ada yang berani mengganggu perayaan khusus itu. Beberapa bulan kemudian Gokul juga minta dibaptis bersama beberapa orang India lain. Jemaat Kristus di India mulai bertumbuh. Tuhan terus memberkati pekerjaan William Carey dan teman-teman-nya sehingga sepuluh tahun sesudah ia datang ke India sudah berdiri tiga puluh pos Misi di India dengan enam puluh tiga pendeta utusan bekerja di dalam pos-pos itu. Lama-kelamaan orang India juga menggabungkan diri dengan pelayanan Misi dan menjadi guru Injil. Untuk mendidik pendeta India didirikanlah sebuah Sekolah Tinggi di Serampore.

Pada suatu hari dalam tahun 1801 pintu kamar studi William Carey diketuk. Seorang utusan dari Calcutta datang dengan surat yang amat penting. William Carey diminta untuk mengajar bahasa Sansekrit dalam Sekolah Tinggi Fort William. Ini satu kehormatan besar untuk William Carey, yang mulai sebagai tukang sepatu di Inggris. Kemudian ia masih diangkat menjadi Profesor dan mendapat gelar Doktor. Selama hidupnya ia tidak pemah menganggap dirinya adalah orang yang penting atau besar, ia tetap rendah hati.

Pada suatu hari William Carey diundang ke rumah gubemur di Calcutta, la mendengar seorang jenderal bertanya kepada bapak Gubemur, apakah benar bahwa dulu William Carey membuat sepatu. Carey sendiri menjawab pertanyaan itu: “Bukan, saya bukan tukang yang membuat sepatu, saya hanya tukang sol sepatu.’ Kerendahan hati itu menolong dia untuk tetap merasa dekat dengan masyarakat,

Perjuangan bagi Masyarakat India

Karena hidup dekat dengan masyarakat, William Carey juga tahu mengenai penderitaan mereka. Ada beberapa kebiasaan dalam agama Hindu yang amat ngeri. Bayi perempuan yang tidak diinginkan dapat dilemparkan ke dalam sungai Gangga yang dianggap suci, untuk ditenggelamkan. Kebiasaan lain membawa banyak penderitaan kepada ribuan ibu-ibu yang suaminya meninggal dunia. Mereka harus berbaring bersama mayat suaminya dan dibakar hidup-hidup dengan api.

William Carey terus menentang kebiasaan itu dan mendorong pemuka-pemuka dalam pemerintahan untuk melarang hal semacam itu. Dan meskipun William Carey harus menunggu sampai dua puluh tahun, akhimya dikeluarkan undang-undang yang melarang anak kecil dibuang ke dalam sungai Gangga dan janda-janda tidak boleh lagi dibakar hidup-hidup bersama mayat suaminya. William Carey menunjukkan pada korban dan kasih Kristus yang ingin menyelamatkan manusia dan bukan membinasakannya. Kasih sedemikian yang sama sekali tidak terdapat dalam agama Hindu, akhimya berakar dalam hati orang India yang menjadi orang Kristen.

Kebakaran di Percetakan

Pada tahun 1812 terjadi sesuatu yang tidak dtsangka-sangka dan sangat mengejutkan. Suatu malam di bulan Maret, bapak Ward yang bertanggung jawab atas percetakan di Serampore sudah menyuruh para pekerjanya pulang. Hanya beberapa yang masih membersihkan ruang cetak hadir dalam gedung. Bapak Ward sendiri masih duduk dalam kantomya. Tiba-tiba ia mencium bau kebakaran. Ada apa? la langsung lari ke ruang cetak, tetapi dia tidak melihat apa-apa. Kemudian ia mencek ruang gudang kertas. Di situ ia melihat banyak kertas yang sudah mulai dimakan oleh api. “Api!! Api!!” terdengar teriakan di mana-mana. Dalam sekejap kertas yang banyak itu terbakar. Naskah-naskah yang sangat berharga yang teiah dikenakan dengan susah payah dalam jangka waktu yang cukup lama ikut terbakar. William Carey belum kembali dari Calcutta.

Keesokan harinya ketika William Carey pulang, ia hanya dapat menyaksikan gedung yang hitam dan kosong. Tetapi sekali lagi ia tidak putus asa dan tidak mundur. Bersama rekan sekerjanya ia membangun percetakan yang baru, juga mengerjakan naskah yang baru. Iblis tidak behasil membuat orang Kristen jatuh karena kecewa.

Akhir Hidup William Carey

Empat puluh satu tahun William Carey bekerja di India tanpa pulang ke Inggris. la bertahan dalam menghadapl setiap penderitaan dan penyakit dalam keluarganya, bahkan kekecewaan dan kehinaan. Tatkala di akhir hidupnya ia menjadi orang yang sangat dihormati, ia tidak menjadi sombong. Banyak missionaris muda mendapat inspirasi dari hidupnya.

Waktu William Carey terbaring karena penyakit lanjut usia, ia dikunjungi oleh seorang pendeta utusan yang masih muda bernama Alexander Duff. Tamu tni banyak meminta nasehat dan selalu menyebut William Carey sebagai doktor Carey, karena ia sangat menghormatinya. Waktu Alexander Duff hendak pulang. namanya dipanggil oleh William Carey.

“Ada apa, doktor Carey?” tanyanya. William Carey menjawab: “Mr. Duff banyak berbicara tentang doktor Carey, tetapi sesudah saya mati, janganlah berbicara tentang doktor Carey, berbicaralah tentang Juruselamat doktor Carey.”

Pada akhir hidupnya, tukang sol sepatu itu menjadi seorang ahli bahasa yang sangat dihormati, seorang profesor pada Sekolah Tinggi di Calcutta yang sangat menghormati dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus, Juruselamatnya.

Pada tanggal 9 Juni 1934 pekerjaan William Carey di dunia selesai. ia meninggal dalam damai sejahtera Allah dan pulang untuk beristirahat dari pekerjaan yang sudah ia lakukan dengan setia.

—– 00000 —–

Sumber: FROM JERUSALEM TO IRIAN JAYA by RUTH TUCKER

5 Tanggapan to “WILLIAM CAREY”

  1. Ofi said

    thank’s for the teks above. it’s help my job us Teacher

  2. petrusfs said

    I hope other articles on the misiion topic will help you teaching your students. God bless you

  3. Rikho said

    Thank God for Prof.William Carey yang berani mengambil resiko menjadi Misionaris di India dan menjadi inspirasi bagi misionari yang selanjutnya.
    “EXPECT GREAT THINGS FROM GOD..
    LOOK FOR GREAT THINGS FOR GOD”

  4. fanny said

    semoga masih ada hamba2 Tuhan yg berjiwa seperti W. Carey di jaman ini.
    karena tuaian sudah menguning, tapi pengerja sedikit….

  5. heri sumantri said

    Trima kasih untuk artikel ini….saya sangat diberkati,,,,Kita harus mempunyai iman yang mengalahkan dunia…JLU amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: