LADANG SUDAH MENGUNING

Save the lost at any cost

JONATHAN AND ROSALIND GOFORTH

Posted by petrusfs pada Oktober 17, 2007

Jonathan Goforth
Dari semua misionaris yang melayani di daerah Dunia Timur selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, tak seorang pun melihat respons cepat yang lebih besar dalam pelayanan pribadinya dibandingkan dengan Jonathan Goforth, yang menurut J. Herbert Kane, adalah “seorang penginjil Cina paling terkemuka.” Cina adalah basis Goforth, tetapi ia juga melayani di Korea dan Manchuria; dan ke mana pun ia pergi selalu diikuti kebangunan rohani.

Goforth, anak ketujuh dari delapan bersaudara, dilahirkan di Western Ontario pada tahun 1859. la bertobat pada usia 18 tahun dan mengabdikan diri dalam pelayanan Tuhan setelah membaca Memoirs of Robert Murray M’Cheyne (Kenangan pada Robert Murray M’Cheyne). Tetapi panggilannya untuk misi tidak terjadi setelah itu, ketika ia digerakkan oleh daya tarik Dr. George Mackay, seorang veteran misionaris dari Formosa. Mackay telah bepergian selama dua tahun … berkeliling Kanada berusaha untuk membujuk beberapa pemuda untuk datang ke For­mosa, tetapi seperti yang ia katakan kepada para pemirsanya, semua perjalanannya selama ini sia-sia, dan ia tidak memiliki pilihan kecuali kembali ke Formosa tanpa membawa seorang pun untuk dibawanya dalam melaksanakan pekerjaan yang ia telah mulai. Pesan Mackay menyengat kesadaran Goforth muda: “Saat saya mendengarkan kata-kata tersebut, saya begitu diliputi rasa malu … Sejak saat itu, saya menjadi misionaris luar negeri.”

Dalam persiapan pelayanannya, Goforth menghadiri Knox College, di mana ia telah berharap untuk menemukan persekutuan Kristen yang hangat dan sarjana-sarjana Alkitab yang berhasrat. Sebaliknya, anak desa yang lugu dan berpakaian buatan rumah ini mendapatkan dia sendirian dalam kegairahannya untuk misi-misi. la dengan segera menjadi sasaran populer untuk humor kampus, khususnya setelah ia mengabdikan dirinya untuk rne-nolong pekerjaan misi; tetapi dengan berlewatnya waktu sikap-sikap mereka berubah, dan pada saat lulus, Goforth telah menjadi salah satu murid paling dihormati di kampus.

Sementara aktif dalam peker­jaan misi kota pada musim semi 1885, Goforth bertemu Rosalind Smith, seorang murid seni yang berbakat dan canggih dan kelihatannya bukan calon isteri misio­naris yang baik. Tetapi entah bagaimana Rosalind melihat melampaui “pakaian kumalnya” dan melihat potensi besarnya sebagai pelayan Allah. Baginya itu adalah cinta pada pandangan pertama: “Semua-nya terjadi dalam beberapa saat, tetapi saat saya duduk di sana, saya mengatakan pada diri saya, ‘Itulah pria yang ingin saya nikahi!’ Beberapa lama setelah itu, mereka bertunangan, dan pada saat itu Rosalind harus merasakan pengorbanan pertama yang akan ia hadapi sepanjang sisa hidupnya sebagai isteri Jonathan Goforth. Impiannya mendapatkan cincin pertunangan segera padam setelah Goforth mengatakan kepadanya bahwa ia harus menggunakan uang pembelian cincin itu untuk membeli literatur Kristen.

Setelah lulus dari Knox College, Goforth mendaftar ke China Inland Mission (CIM), karena gerejanya sendiri, gereja Presbiterian Kanada tidak memiliki pekerjaan misi di Cina. Sebelum ia menerima tanggapan dari CIM, murid-murid Presbiterian dari Knox berkumpul untuk kepentingannya dan berikrar untuk mengumpulkan uang sendiri dan mengirimnya ke Cina. Sebelum berlayar, Goforth berkeliling di Kanada, berceramah untuk misi. Pesan-pesannya begitu kuat dan di mana-mana ia pergi ia menyaksikan kehidupan yang berubah. Kesaksian seorang lulusan Knox College tentang Goforth secara tajam menggambar-kan hal ini: Saya sedang menuju pertemuan alumni di Knox College, Toronto, bertekad melakukan apapun dengan kekuatan saya untuk mengacaukan rancangan yang sedang dibicarakan oleh para murid imiversitas, memulai ladang misi mereka sendiri di Cina tengah. Saya juga merasa saya memerlukan mantel barn. Jadi saya pikir saya akan pergi ke Toronto untuk membunuh dua burung dengan satu batu. Saya akan membantu membelokkan rancangan dan membeli mantel. Tetapi orang ini di sini menggagalkan rencana saya sama sekali. Ia meyakinkan saya dengan suatu rasa antusiasme untuk misi yang tidak pernah saya alami sebelumnya dan uang mantel saya pun digunakan untuk dana bagi dirinya.

Pada tahun 1888 keluarga Goforth berlayar ke Cina untuk melayani propinsi Honan, di mana mereka memulai kehidupan yang penuh kesulitan dan perpisahan yang sepi. Mereka sering menderita sakit dan mereka lihat lima dari sebelas anak mereka mati ketika masih kanak-kanak. Api, banjir dan pencurian menghabiskan barang-barang mereka dan dalam beberapa situasi mereka rnenghadapi kejadian yang mengancam kehidupan mereka. Pencobaan paling menakutkan yang mereka hadapi adalah pelarian mengerikan sejauh seribu mil untuk menyelamatkan diri dari kegilaan Boxer pada tahun 1900. Melalui semuanya itu, visi mereka untuk jiwa yang terhilang tidak pernah pudar.

Sejak tahun-tahun awalnya di Cina, Goforth dikenal sebagai penginjil yang penuh kuasa, kadang-kadang berbicara kepada khalayak sampai sejumlah 25.000 orang. Pesannya adalah sederhana: “Yesus Kristus dan penyaliban-Nya.” Pada awal pelayanannya, seorang misionaris berpengalaman mengatakan kepadanya untuk “tidak berbicara tentang Yesus untuk pertama kali ketika berkhotbah kepada pemirsa kafir” karena “sikap prasangka terhadap nama Yesus,” suatu nasihat yang terus menerus diabaikan oleh Goforth. Pendekatan langsung ada­lah hal yang ia ketahui.

Usaha-usaha Goforth untuk menjangkau orang-orang Cina ada­lah tidak konvensional menuai standar-st andar misi, khususnya penginjilan “rumah terbuka” mereka. Rumah mereka yang memakai desain interior Eropa, dan perabot mereka (termasuk kompor dapur, mesin jahit, dan sebuah organ) adalah barang-barang yang mendatangkan keingintahuan yang besar di kalangan orang-orang Cina, dan keluarga Goforth dengan sukarela melupakan privasi mereka dan secara efektif menggunakan rumah mereka sebagai sarana untuk menciptakan teman dan kontak di antara orang-orang di propinsi itu.

Pengunjung-pengunjung dari jarak bermil-mil datang, suatu hari ada lebih dari 2000 orang yang datang, untuk berkeliling rumah dalam kelompok-kelompok kecil. Sebelum memulai setiap tur, Goforth memberikan pesan Injil, dan kadang-kadang para pengunjung tinggal untuk mendengar lebih banyak. la berkhotbah rata-rata 8 jam setiap hari, dan selama periode 5 bulan sekitar 25.000 orang datang berkunjung. Rosalind melayani para wanita, kadang-kadang berbi­cara kepada sebanyak 50 orang dalam satu waktu yang berkumpul di halaman mereka.

Jenis penginjilan semacam inilah yang membuka jalan bagi pelayanan masa depan Goforth untuk berkeliling dari kota ke kota mengadakan kebangunan rohani, tetapi tidak semua rekannya setuju: “Beberapa orang mungkin menganggap penerimaan pengunjung bukan misi yang nyata, tetapi saya pikir itu nyata. Saya menempatkan diri saya untuk berteman dengan orang-orang dan saya menuai hasil ketika saya pergi ke desa-desa untuk berkhotbah. Seringkali orang-orang dari sebuah desa akan berkumpul di sekitar saya dan mengatakan, “Kami ada di tempat anda, dan anda menunjukkan barang-barang yang ada di rumah anda, dan memperlakukan kami sebagai teman.” Kemudian mereka hampir selalu membawa sebuah kursi untuk duduk, sebuah meja untuk meletakkan Alkitab dan minuman teh.”

Pemberontakan Boxer tahun 1900 menghentikan kegiatan misi Goforth, dan setelah mereka kembali ke Cina kehidupan keluarga mereka berubah secara drastis untuk mengikuti rencana baru Goforth bagi suatu pelayanan keiiling yang luas. la telah membicarakan ide ini sebelumnya dengan Rosalind sebelum kembali ke Kanada untuk bergabung dengan dia di Cina, dan segera setelah kedatangan Rosalind, ia mengajukan rancangannya kepada Rosalind: “Rencana saya adalah menyuruh salah seorang pembantu saya untuk mendapatkan suatu tempat yang cocok dalam sebuah pusat bagi kita untuk hidup dan kemudian kita sebagai keluarga tinggal satu bulan di pusat itu, dan selama itu kita mengadakan peng-injilan. Saya akan pergi dengan orang-orang saya ke desa-desa atau di jalan pada siang hari, sementara kamu menerima dan berkhotbah kepada para wanita di halaman. Sore hari akan disediakan untuk pertemuan bersama dengan kamu memainkan organ dan dengan banyak himne Injil. Kemudian pada akhir bulan, kita akan meninggal-kan seorang penginjil di belakang untuk mengajar orang-orang percaya baru sementara kita pergi ke tempat lain untuk melakukan hal yang sama. Ketika telah dibuka sejumlah tempat, kita akan kembali satu atau dua kali setahun.” Saat Rosalind mendengar “hatinya berkobar.” Ide itu sendiri mengesankan, tetapi tidak cocok bagi seorang yang berkeluarga. Membawa anak-anak kecil mereka yang rentan terhadap penyakit infeksi yang menjalari desa-desa adalah terlalu berisiko, dan ia tidak dapat melupakan “empat kuburan” kecil yang mereka tinggalkan di belakang, di tanah Cina. Meskipun pada awalnya Rosalind menolak, Goforth tetap melanjutkan rencananya dan yakin itu adalah kehendak Allah.

Sementara Rosalind sepenuhnya mendukung pengabdian suami­nya pada Tuhan, secara alamiah ia juga kadang-kadang prihatin akan pengabdian suaminya kepada dia dan anak-anaknya. Tentu saja ke­hendak Allah adalah yang terutama, tetapi apakah itu harus berseberangan dengan kepentingan terbaik bagi keluarga? Sebagai isteri, ia tidak pernah meragukan cintanya, tetapi kadang-kadang ia merasa kurang aman dengan posisinya. Sebelum ia dan anak-anak kembali ke Kanada sendirian pada tahun 1908, ia menanyai dirinya sehubungan dengan komitmen suaminya terhadap dirinya: “Misalkan saya diserang penyakit yang hampir selalu membawa sebuah kursi untuk duduk, sebuah meja untuk meletakkan Alkitab dan minuman teh.”

Pemberontakan Boxer tahun 1900 menghentikan kegiatan misi Goforth, dan setelah mereka kembali ke Cina kehidupan ke-luarga mereka berubah secara drastis untuk mengikuti rencana baru Goforth bagi suatu pelayanan keliling yang luas. la telah membicarakan ide ini sebelumnya dengan Rosalind sebelum kembali ke Kanada untuk bergabung dengan dia di Cina, dan segera setelah kedatangan Rosalind, ia mengajukan rancangannya kepada Rosalind: “Rencana saya adalah menyuruh salah seorang pembantu saya untuk mendapatkan suatu tempat yang cocok dalam sebuah pusat bagi kita untuk hidup dan kemudian kita sebagai keluarga tinggal satu bulan di pusat itu, dan selama itu kita mengadakan penginjilan. Saya akan pergi dengan orang-orang saya ke desa-desa atau di jalan pada siang hari, sementara kamu menerima dan berkhotbah kepada para wanita di halaman. Sore hari akan disediakan untuk pertemuan bersama dengan kamu memainkan organ dan dengan banyak himne Injil. Kemudian pada akhir bulan, kita akan meninggalkan seorang penginjil di belakang untuk mengajar orang-orang percaya baru sementara kita pergi ke tempat lain untuk melakukan hal yang sama. Ketika telah dibuka sejumlah tempat, kita akan kembali satu atau dua kali setahun.” Saat Rosalind mendengar “hatinya ber-kobar.” Ide itu sendin mengesankan, tetapi tidak cocok bagi seorang yang berkeluarga. Membawa anak-anak kecil mereka yang rentan terhadap penyakit infeksi yang menjalari desa-desa adalah terlalu berisiko, dan ia tidak dapat melupakan “empat kuburan” kecil yang mereka tinggalkan di belakang, di tanah Cina. Meskipun pada awalnya Rosalind menolak, Goforth tetap melanjutkan rencananya dan yakin itu adalah kehendak Allah.

Sementara Rosalind sepenuhnya mendukung pengabdian suami­nya pada Tuhan, secara alamiah ia juga kadang-kadang prihatin akan pengabdian suaminya kepada dia dan anak-anaknya. Tentu saja ke­hendak Allah adalah yang terutama, tetapi apakah itu harus berseberangan dengan kepentingan terbaik bagi keluarga? Sebagai isteri, ia tidak pernah meragukan cintanya, tetapi kadang-kadang ia merasa kurang aman dengan posisinya. Sebelum ia dan anak-anak kembali ke Kanada sendirian pada tahun 1908, ia menanyai dirinya sehubungan dengan komitmen suaminya terhadap dirinya: “Misalkan saya diserang penyakit yang mengambil bagian dalam pelayanan perjamuan suci.”

Bersama dengan kesuksesannya, Goforth menghadapi kemunduran dan masalah-masalah. Pada awal pelayanannya ia menghadapi “bahaya yang mengancam untuk menyedot gereja mula-mula di Honan utara … invasi dari Roma.” Katolik Roma, kelihatannya meng-ikuti jejaknya dan dalam satu kota mereka “menangkap hampir seluruh pencari keterangan … menyapu habis dalam satu minggu pekerjaan selama satu tahun.” Apa yang akan memotivasi “para penanya” ini untuk berpindah ke Katolik? Menurut Goforth, kaum Katolik menawari mereka pekerjaan, pendidikan gratis, termasuk ruang dan tempat tinggal. (Kaum Protestan merasa bersalah akan hal ini juga, kadang-kadang sampai membayar orang-orang Cina untuk menghadiri sekolah-sekolah mere­ka) Tetapi Goforth tetap kokoh dalam keyakinannya: “Kita dapat memberikan bujukan seperti itu dan kita memiliki rasa takut akan menghasilkan ‘orang-orang Kristen beras.’ Kita tidak dapat bersaing dengan Roma dengan membeli orang-orang itu. Meskipun Goforth menolak untuk inengimbangi tawaran-tawaran yang dilakukan oleh kaum Katolik, sebagian besar dari mereka yang berpaling pada kaum Katolik segera kembali pada golongannya.

Masalah lain yang dihadapi Goforth adalah dalam hubungannya dengan badan misinya sendiri. la menganggap “tuntunan Roh Ku­dus” di atas “peraturan keras dan cepat” dari kaum Presbiterian yang ia layani, sehingga menurut isterinya,” dengan keyakinan-keyakinannya akan tuntunan Ilahi oleh dirinya, ia secara alamiah sering berselisih dengan anggota-anggota Presbiterian Honan lainnya,” menjadikan dia sebagai “orang yang sulit bekerjasama”. Goforth sendiri tidak menuntut hak istimewa khusus bagi dirinya, tetapi mendesak agar setiap misionaris seharusnya memiliki “kebebasan untuk melakukan tugasnya sebagai mana yang dirasakannya.” Itu adalah masalah yang rumit, dan Goforth sering “mendapati dirinya terhalang dan terdesak dalam mengikuti apa yang dianggapnya sebagai tuntunan Roh Kudus.”

Saat Goforth melayani selama bertahun-tahun di Cina, masalah-masalahnya tidak berkurang. Konfrontasi- konfrontasi tetap berlanjut, gesekan meningkat khususnya pada tahun 1920-an ketika perselisihan Fundamentalis- Modernis yang terjadi di negeri asal merambat ke Cina. Para misionaris baru dengan kritik pedas tiba di lapangan dan Goforth “merasa tak berdaya mengatasi gelombang.” Jalan ke luar satu-satunya bagi dia hanyalah “berkhotbah seperti yang tidak pernah terjadi sebelumnya tentang keselamatan dan melalui salib Golgota dan menunjukkan kuasa-Nya .. .”

Lama setelah sebagian besar misionaris menyerah pada penyakit atau pensiun, Goforth pada usia 73 tahun tetap mengadakan kebangunan rohani yang padat. Bahkan setelah dihinggapi kebutaan ia tetap melanjutkan pelayanannya dengan dibantu oleh seorang asisten Cina. Pada usia 74 tahun, ia kembali ke Kanada, di mana ia melewatkan waktu 18 bulan lamanya untuk berkeliling dan berbicara di hampir 500 pertemuan. Ia tetap melanjut­kan sampai akhir, berbicara empat kali dalam satu minggu, sebelum ia mati dengan damai dalam tidurnya. la meninggalkan suatu kesaksian yang menyolok akan apa yang dapat dilakukan seseorang bagi Allah di antara jutaan orang Dunia Timur yang berkerumun.

—– 00000 —–

Sumber: FROM JERUSALEM TO IRIAN JAYA by RUTH TUCKER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: