LADANG SUDAH MENGUNING

Save the lost at any cost

JOHN WILLIAMS

Posted by petrusfs pada Oktober 17, 2007

John Williams
Kehidupan yang diubah

John Williams dilahirkan pada tahun 1796 dekat kota London, ibu kota kerajaan Inggris. Pada waktu ia berusia 14 tahun, orang tuanya membuat kontrak dan menyerahkan John Williams kepada Bapak Tonkin, pemilik toko dan pengusaha logam dan besi. Rencana mereka agar John belajar selama lima tahun mengenai urusan toko dan pandai besi. Hal ini dilakukan oleh orang tuanya, karena mereka melihat akan kemampuan John dalam banyak hal dan juga untuk bekal hidupnya kelak di kemudian hari. Tetapi mengenai masa depan John, sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu dan tangan Tuhan ada atas kehidupannya.

Selama belajar, John Williams tinggal bersama keluarga Tonkin. Keluarga ini sungguh mengashi Tuhan Yesus dan ketika John berusia delapan belas tahun Tuhan memakai Nyonya Tonkin secara khusus untuk menolongnya. Nyonya Tonkin melihat bahwa akhir-akhir ini John tidak begitu senang ikut ke gereja. la lebih tertarik kepada teman-temannya yang mengundang John untuk minum minuman keras bersama mereka sampai mabuk.

Pada malam tanggal 30 Januari l814, saat Nyonya Tonkin keluar dari rumah untuk pergi ke persekutuan, ia melihat John berdiri dengan gelisah di bawah terang lentera. Apa yang sedang dilakukannya? John rupanya sedang menunggu teman-temannya yang tidak kunjung datang. “John, mari ikut saya ke gereja!” ajak Nyonya Tonkin dengan ramah. “Ada pembicara khusus malam ini.” Akhirnya John dengan setengah hati ikut juga ke gereja. Namun firman Tuhan yang disampaikan malam itu sungguh menusuk hatinya. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26). Malam itu John Williams bertobat dan sejak saat itu ia sangat mengasihi Tuhan Yesus sampai akhir hidupnya.

Panggilan untuk memberitakan Injil

Dalam abad kesembilan belas, orang Kristen di Eropa sudah mulai terbuka mata rohaninya untuk melihat tanggung jawab mereka dalam memberitakan Injil kepada orang yang belum pernah mendengarnya. Memang, William Carey pernah mendirikan Yayasan Misi pertama dan orang Kristen di Inggris mendengar mengenai pelayanan misi di India.

Tetapi John Williams yang baru bertobat itu sangat tertarik dengan berita mengenai orang-orang yang tinggal di Kepulauan Pasifik Selatan yang terletak di sebelah Timur Australia dan Irian Jaya. Tuhan berbicara dalam hatinya, dan John Williams mengerti bahwa ia sendiri akan pergi memberitakan Injil kepada mereka.

Dua tahun kemudian ketika John Williams berusia dua puluh tahun, ia diutus oleh London Mission Society bersama istrinya yang berusia sembilan belas tahun. Pasangan muda itu berangkat dari Inggris dengan kapal “Harriet” pada tanggal 30 September 1816 dan tiba di Kepulauan yang sudah lama didoakannya itu pada tanggal 16 Nopember 1817. Berarti perjalanan mereka lebih dari pada satu tahun!

Mereka mendarat di pulau Tahiti, salah satu di antara banyak Kepulauan Pasifik Selatan. Hati mereka berdebar-debar. Dari permulaan John Williams yakin bahwa ia tidak akan tinggal dan bekerja dalam satu pulau saja, tetapi mengunjungi sebanyak mungkin pulau dan memberitakan Injil kepada suku-suku di sana. Namun John dan Mary Williams lebih dahulu harus memilih satu pulau untuk belajar bahasa dan mendapatkan teman yang ingin mendengar tentang Tuhan Yesus.

Tuhan memimpin mereka ke pulau Raiatea. Kepala sukunya bernama Tamatoa. la menyambut keluarga Williams dengan baik dan menyetujui untuk mereka tinggal di pulaunya serta membangun sebuah rumah. Dalam waktu singkat John Williams sudah bisa menguasai bahasa mereka, sehingga ia dapat mcnjelaskan firman Tuhan dalam bahasa itu. Penduduk pulau Raiatea duduk pada lantai rumah John dan Mary dan mendengar dengan sungguh-sungguh. Mereka bersedia membuang patung-patung berhala dan ingin belajar berdoa dan percaya kepada Tuhan Yesus yang mengasihi mereka.

Orang-orang Raiatea yang baru percaya itu sangat bersemangat untuk memberitakan Injil ke pulau-pulau lain, karena John Williams mengajar mereka bahwa seperti dia datang dari Inggris untuk membawa Injil kepada mereka, sekarang sudah menjadi kewajiban mereka untuk memberitakannya kepada penduduk pulau lain. Tetapi bagaimana sampai ke pulau lain kalau tidak ada perahu?

Kapal yang mengantarkan John dan Mary Williams sudah berangkat lagi sedangkan perahu milik penduduk setempat terlalu kecil dan tidak kuat untuk berjalan jauh. Untung John Williams telah belajar banyak di bengkel Bapak Tonkin. Bersama orang Raiatea John membuat sebuah perahu yang cukup besar dari bahan-bahan yang terdapat di pulau itu, supaya kelak mereka juga dapat membuat perahu sendiri. Betapa bangganya waktu perahu hasil jerih payah mereka yang pertama dapat berlayar tanpa kemasukan air.

Tuhan membuka jalan untuk pergi ke pulau lain

John Williams dan istrinya selalu berdoa untuk penduduk pulau lain yang belum mereka kenal. Tuhan melihat kerinduan hati mereka dan membuka jalan untuk pergi ke pulau-pulau lain. Pada suatu hari, sebuah perahu kecil mendekati pantai mereka. John Williams menyambut dua bapak yang keluar dari perahu itu dengan ramah. Ternyata mereka adalah kepala suku dari pulau Rurutu, 350 mil jauhnya dari pulau Raiatea. Mereka datang untuk mencari pertolongan karena di pulau itu sedang terjangkit wabah penyakit yangmenyebabkan banyak orang meninggal. Tetapi karena tidak ada kapal lagi, mereka harus tinggal di pulau Raiatea selama tiga bulan dan belajar membaca serta menulis bersama penduduk setempat. Mereka juga mendengar tentang Tuhan Yesus yang datang untuk membebaskan manusia dari segala dosa dan penderitaan. Akhirnya mereka percaya kepada Tuhan Yesus dan bertobat. Hidup baru orang Raiatea sangat berkesan di hati kedua bapak dari Rurutu itu sehingga dalam hati mereka ada kerinduan supaya pulau mereka juga dapat menerima guru yang mengajar mereka. John Williams yang melihat kerinduan mereka memanggil semua orang Kristen baru di Raiatea dan menantang mereka, siapa yang bersedia ikut ke pulau Rurutu untuk mengajar penduduk di sana. Dua bapak bersedia ikut ke sana kalau Tuhan membuka jalan.

Apa yang terjadi? Tepat waktu itu sebuah kapal melewati pulau Raiatea dalam perjalanan menuju Inggris. Kapten kapal itu bersedia untuk membawa dua kepala suku kembali ke pulau Rurutu bersama dua bapak yang mau menjadi guru Injil di sana. la juga memberi ijin untuk membawa perahu buatan penduduk Raiatea dalam kapalnya yang besar itu, supaya dua bapak dari Raiatea nanti dapat pulang kembali.

Dengan hati yang penuh sukacita John Williams melihat kedua orang utusan yang pertama berangkat ke tempat yang Tuhan sediakan. Tiga bulan kemudian kedua bapak utusan itu kembali dengan membawa kabar yang baik. Semua penduduk pulau Rurutu sudah membuang patung-patung mereka dan mau percaya kepada Tuhan Yesus. John Williams bersyukur. Tanpa pertolongan seorang utusan Injil dari barat, Injil dapat berakar di Rurutu. Hal ini membuatnya makin bersemangat untuk mengajar semua orang yang baru percaya .di Raiatea supaya mereka dapat diutus sebagai pemberita Injil ke pulau-pulau lain.

Tantangan dan hambatan datang bergantian

Papeiha dan Vahapata adalah dua di antara beberapa orang Kristen yang bersedia meninggalkan pulaunya. Mereka pergi ke pulau Aitutaki untuk memberitakan Injil. Waktu mereka mendarat, mereka hampir dibunuh oleh penduduk setempat. Semua pakaian dan barang-barang lain milik mereka dicuri oleh penduduk setempat. Tetapi Papeiha dan Vahapata tidak membalas dendam, juga mereka tidak cepat pulang melainkan terus tinggal di Aitutaki, Melihat sifat yang mengherankan itu, orang-orang di sana terbuka untuk mendengar Firman Tuhan.

Pengalaman yang mengharukan itu baru didengar oleh John Williams setahun kemudian waktu ia dapat mengunjungi Papeiha dan Vahapata. Waktu itu semua penduduk pulau mau percaya, sehingga sebuah gereja didirikan di pulau Aitutaki.

Tetapi tidak semua utusan Injil berhasil seperti Papeiha dan Vahapata. Ada juga yang ditolak sehingga harus melarikan diri sebelum dibunuh.

Berlayar ke Rarotonga

Sudah lama John Williams mendengar tentang sebuah pulau yang besa rbernama Rarotonga. la belum pernah ke sana, tetapi dengan kapal baru itu John Williams berani mengunjunginya. Kali ini Mary Williams ikut serta dalam perjalanan. Juga sejumlah orang Kristen dari Raiatea serta dua orang buangan dari pulau yang akan dituju, yang sangat rindu untuk pulang ke Rarotonga. Dalam perjalanan, mereka hampir putus asa. Semua perbekalan hampir habis tatapi pulau yang dituju belum nampak juga.

“Marilah kita berjalan terus selama satu jam saja,” kata John Williams; “Kalau dalam jangka waktu satu jam belum nampak pulau Rarotonga, kita akan kembali.” Dalam jam itu orang buangan dari sana disuruh empat kali mendaki tiang layar. Pada keempat kalinya hanya beberapa menit sebelum jam itu lewat, mereka berseru: “Kami melihat pulau kami dari jauh!” Dengan semangat baru mereka meneruskan perjalanan sampai ke pantai pulau itu. Tetapi kapal besar mereka tidak bisa berlabuh karena tidak ada pelabuhan di sana. Hanya beberapa orang Kristen mendarat di pantai itu dengan perahu kecil, di antaranya Papeiha yang sudah berpengalaman. Meskipun mereka tidak diterima dengan baik, Papeiha dan istrinya memberi isyarat ke kapal besar, bahwa mau tetap tinggal di sana. Bersama pasangan guru lain akhirnya mereka ditinggalkan di Rarotonga. Kapal besar harus berjalan terus tanpa mengetahui nasib mereka. Dalam hati John dan Mary Williams berdoa agar Tuhan sendiri memenangkan penduduk pulau itu.

Kunjungan keluarga Williams ke Rarotonga

Selama empat tahun John Williams tidak bisa ke Rarotango karena ia terpaksa harus menjual kapal besarnya. Tanpa kapal tidak mungkin mereka dapat melakukan perjalanan yang jauh itu. Tetapi pada tahun 1827 kapal “Haweis” dari Inggris lewat untuk mengantarkan keluarga pendeta utusan baru ke Rarotonga. Bapak dan Nyonya Williams dengan senang hati ikut ke sana. Mcreka rindu sekali untuk bertemu lagi dengan Papeiha dan mendengarkan apa yang terjadi padanya selama empat tahun itu.

Apa yang mereka temui? Waktu kapal “Haweis” mendekati pantai Rarotonga, Papeiha membawa rombongan untuk menjemput Bapak dan Ibu rohaninya. Rombongan itu terdiri dari orang Kristen yang baru diajar oleh Papeiha dan teman-temannya. Betapa terhibur John dan Mary Williams. Mereka mendarat dan kapal “Haweis” berjalan terus. Pada hari-hari pertama mereka memeriksa keadaan di Rarotonga. Ternyata pulau itu disiksa oleh banyak tikus yang besar dan ganas. Keluarga Williams bersama penduduk berusaha untuk memberantasnya. Empat tahun yang lalu Papeiha membawa kucingnya bernama Tom. Tom membunuh banyak tikus, tetapi akhirnya ia dibunuh. Karena penduduk Rarotonga yang belum pernah melihat seekor kucing menganggap dia sebagai roh jahat. Sekarang semua setuju untuk mengusahakan kucing-kucing dari pulau lain, supaya Rarotonga tertolong. Mereka juga membawa kambing-kambing, supaya makanan lebih bergizi. Banyak hal yang praktis yang dikerjakan oleh keluarga Williams.

Tetapi akhirnya timbul pertanyaan: Bagaimana cara pulang ke Raiatea? Tidak ada kapal lagi. John Williams berdoa dan beriman dalam keadaan darurat itu. Dengan alat serta bahan yang sangat sederhana John Williams berusaha membuat kapal yang cukup besar. Sekali lagi ia bersyukur akan segala pengalaman yang baik dalam bengkel Bapak Tonkin. Ya, Tuhan sungguh mempersiapkan hamba-Nya jauh-jauh sebelumnya. Dalam jangka waktu dua bulan, kapal sudah jadi, meskipun agak kasar. Kapal itu diberi nama “Pembawa Damai” dan dalam kapal itu John dan Mary Williams pulang ke Raiatea.

Kapal “Pembawa Damai” juga membawa John dan Mary Williams ke sebuah pulau yang lebih jauh lagi jaraknya yaitu ke Samoa. Dari sana John masih ingin berjalan terus sampai ke pulau-pulau Hebriden Baru. Di situ tinggal suku-suku yang sangat kejam dan sudah banyak membunuh orang yang datang ke pantai mereka. Mary Williams senang sekali bahwa perjalanan itu belum terlaksana karena mereka terlebih dahulu akan pulang cuti ke Inggris. Di Inggris mereka menyaksikan kepada orang Kristen di sana tentang apa yang Tuhan sudah lakukan di Kepulauan Pasifik Selatan dan mereka minta tolong untuk mendapat sebuah kapal yang baru.

Pengorbanan John Williams

Dalam tahun 1838, sesudah empat tahun di Inggris, John dan Mary Williams kembali ke tempat pelayanan mereka dengan kapal “Camden” yang menjadi kapal mereka. Betapa senang hati John Williams. Langsung ia membuat rencana untuk pergi mengunjungi pulau-pulau Hebriden Baru. Kali ini Mary Williams takut sekali mendengar rencana suaminya. la tidak setuju bahwa suaminya pergi ke sana. Tetapi John Williams tidak mendengarkan suara istrinya. Kalau penduduk di pulau-pulau itu sangat kejam, itu justru menjadi sebab untuk membawa mereka supaya mengenal Kristus.

Pada tanggal 4 Nopember 1839 John Williams berpisah dengan istrinya. la berangkat bersama sekelompok orang Kristen lain. “Jangan mendarat ke pulau Eromanga, jangan ke Eromanga!” pesan istrinya beberapa kali. Dia mendengar bahwa penduduk Eromanga paling terkenal karena kekejaman mereka.

Pada tanggal 20 Nopember 1839 kapal “Camden” sampai ke pulau Eromanga. Penduduk ramai-ramai berkumpul di pantai seolah-olah hcndak menyambut mereka, tetapi tidak terlihat dalam kumpulan itu anak-anak ataupun wanita sehingga ada yang merasa bahwa itu pertanda mereka akan membunuh orang-orang asing. Tetapi John Williams tidak takut. la mendarat dengan perahu pertama kemudian duduk di antara orang laki-laki dan membagikan pakaian kepada mereka. Tiba-tiba ada yang mengancam, ternyata mereka hanya pura-pura ramah. John Williams mencoba lari kembali ke perahu tetapi ia jatuh dan langsung mati tertikam oleh penduduk Eromanga yang ia kunjungi untuk membawa kabar baik kepada mereka.

Persembahan anak-anak Sekolah Minggu untuk Misi

Cerita ini tidak berakhir dengan kematian John Williams yang baru berusia empat puluh lima tahun ketika ia dipanggil pulang oleh Tuhan. Bukan hanya Mary Williams dan semua orang Kristen di pulau Raiatea, Rurutu, Rarotonga dan Samoa yang menangisi John Williams. Jemaat-jemaatdi Inggris yang mengutus John dan Mary pun menangisinya. Kapal Camden yang membawa mereka ke Pasifik Selatan, empat tahun kemudian kembali dalam keadaan agak rusak. Pada waktu itu timbul pikiran yang sangat baik: Mengapa tidak menantang anak-anak Sekolah minggu di Inggris untuk mengumpulkan uang dan membeli kapal lain yang dapat dinamai “John Williams”? Ternyata pikiran ini mendapat tanggapan yang baik sehingga banyak anak dari berbagai-bagai gereja membawa uang kecil mereka dengan sukacita. Dalam jangka waktu satu tahun mereka telah mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk membeli sebuah kapal yang bagus. Dengan huruf besar tertulis nama “John Williams” pada haluannya.

Penyambutan kapal itu di Samoa dan di Raiatea luar biasa indahnya. “John Williams sudah kembali kepada kami” terdengar seruan penduduk di sana. Anak-anak mengumpulkan kelapa dan buah-buahan lain untuk menolong membayar bahan bakar untuk kapal mereka. Waktu kapal John Williams I rusak dan harus diperbaiki di Inggris, anak-anak Sekolah Minggu mengumpulkan uang lagi. Dan pada waktu kapal itu tidak dapat diperbaiki lagi, mereka mengusahakan uang untuk membeli kapal John Williams II. Hari ini di antara pulau-pulau yang diinjili John Williams seratus lima puluh lima tahun yang lalu, berjalan kapal kecil yang bernama John Williams VII. Sampai sekarang anak-anak Sekolah Minggu di Inggris merasa bertanggung jawab atas kapal mereka.

Sumber : FROM JERUSALEM TO IRIAN JAYA by RUTH TUCKER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: